Rabu, 25 Juli 2012

KUALITAS PENDIDIKAN

UPAYA PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN PADA ERA GLOBALISASI DI INDONESIA

Era globalisasi yang kita rasakan sekarang, yang salah satunya ditandai dengan majunya teknologi informasi telah memberikan pengaruh yang besar terhadap dunia pendidikan baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif. Kemudahan berkomunikasi dan mendapatkan informasi dengan cepat yang merupakan keuntungan dari majunya teknologi informasi pada masa sekarang seharusnya dimanfaatkan dalam proses balajar mengajar untuk peningkatan mutu pendidikan, sebaliknya, pengaruh negatif yang timbul akibat pesatnya teknologi informasi seperti banyaknya kasus kriminal di kalangan pelajar haruslah disikapi dengan bijak oleh para civitas akademik maupun lingkungan keluarga dan masyarakat dalam penanaman nilai-nilai pendidikan.
 Aspek-aspek pendidikan seperti pendidik dan peserta didik serta sistem hubungan antara keduanya, materi pelajaran, metode pembelajaran, alat/sarana dan prasarana serta lingkungan pendidikan perlu didesain untuk disesuaikan dengan tuntutan zaman agar dunia pendidikan terus bereksistensi secara fungsional dalam menjalankan visi dan misinya, yakni memanusiakan manusia.
Dunia pendidikan saat ini benar-benar dihadapkan pada tantangan yang cukup berat yang penanggulangannya membutuhkan keterlibatan dari berbagai pihak. Sehubungan  dengan hal tersebut, maka perlu dilakukan upaya-upaya strategis, antara lain:
Pertama, Persoalan Tujuan Pendidikan.
Tujuan pendidikan tidak cukup hanya membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan, keterampilan, keimanan dan ketakwaan saja, akan tetapi juga harus diarahkan pada upaya melahirkan manusia yang aktif, kreatif, inovatif, mandiri dan produktif, mengingat masa sekarang dan yang akan datang adalah masa yang kompetitif.
Kedua, Aspek Pendidik.
Sebagai pendidik, seorang guru harus memiliki empat kemampuan atau kompetensi, yakni:
1)      Kompetensi pedagogik
Kompetensi ini  dapat dilihat dari kemampuan pendidik dalam merencanakan program belajar mengajar, kemampuan melaksanakan interaksi atau mengelola proses belajar mengajar dan kemampuan melakukan penilaian atau evaluasi.
2)      Kompetensi profesional
Kompetensi profesional pada seorang guru meliputi kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus diajarkan beserta metodenya, rasa tanggung jawab akan tugasnya dan rasa kebersamaan dengan rekan  guru lainnya.
3)      Kompetensi kepribadian
Pendidik dituntut untuk memiliki kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik. Surya (2003:138) menyebut kompetensi kepribadian ini sebagai kompetensi personal, yaitu kemampuan pribadi seorang guru yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. Kompetensi personal ini mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri dan perwujudan diri. Kepribadian yang mantap dari sosok seorang guru akan memberikan teladan yang baik terhadap anak didik maupun masyarakatnya, sehingga guru akan tampil sebagai sosok yang patut “digugu” (ditaati nasehat/ucapan/perintahnya) dan “ditiru” (dicontoh sikap dan sifatnya).
4)      Kompetensi sosial
Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.
Ketiga, Masalah Materi Pelajaran.
Materi pelajaran umum dan pelajaran agama perlu diintegrasikan dan diberikan kepada siswa sebagai bekal yang menjadikan dia memiliki kepribadian yang utuh, yaitu pribadi yang tidak hanya berilmu pengetahuan namun ia juga memiliki akhlak yang mulia. Hal ini penting karena masa sekarang dan yang akan datang, banyak dihadapkan pada tantangan yang bersifat moral, untuk itulah perlu dikembangkan pengamalan pendidikan agama pada tiap sekolah.
Keempat, Berkenaan dengan Metode Pembelajaran.
Dalam proses belajar mengajar, pendidik hendaknya menyesuaikan metode pembelajaran yang ia gunakan dengan materi yang ia ajarkan. Ada banyak metode pembelajaran yang dapat diterapkan agar materi mudah diserap oleh peserta didik sehingga menciptakan suasana Pembelajar yang Aktif, Inovatif, Kreatif, Efrektif dan Menyenangkan ( PAIKEM ).
Beberapa metode pembelajaran yang digunakan dalam penyampaian materi di antaranya :
Metode Ceramah, Metode Drill, Metode Resitasi, Metode Diskusi, Metode Karyawisata maupun Penggunaan Multimedia Interaktif.
Kelima, Aspek Sarana dan Prasarana.
Pendidikan akan tercapai tujuannya jika ditopang dengan sarana dan prasarana yang memadai. Persoalannya, banyak lembaga pendidikan yang sarana dan prasarana pendidikannya masih sangat minim. Ini merupakan hal sangat perlu mendapat perhatian oleh semua pihak dalam pengembangan pendidikan sehingga tujuan pendidikan dapat digapai dengan efektif.
Keenam, Persoalan Lingkungan  Pendidikan.
Perlu diperhatikan, bahwa proses pembelajaran peserta didik sejatinya tidak hanya di sekolah, melainkan juga di rumah dan lingkungan sekitarnya dalam penanaman keilmuan dan akhlak serta moral peserta didik. Lingkungan sekitar yang baik dapat mendukung keberhasilan proses pendidikan, sebaliknya, lingkungan peserta didik yang kurang baik akan merusak suatu pendidikan. Oleh karena itu, lingkungan pendidikan hendaknya diciptakan sebaik mungkin dalam mewujudkan peserta didik yang cerdas dalam aspek spiritualnya, aspek emosionalnya serta aspek intelektualnya sehingga pendidikan di Indonesia dapat berkualitas baik dengan bangsanya yang berpendidikan.

Daftar Pustaka:
Nata, Abuddin. Paradigma Pendidikan Islam. 2001. Jakarta: Grafindo.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar